5 CARA MENULIS CERPEN


Menulis cerpen itu mudah. Sama seperti kalau kita berbicara, bercerita, hanya bedanya menulis cerpen adalah bercerita dengan tulisan. Jadi lupakan segala teori penulisan cerpen yang muluk-muluk dan mulailah bercerita…Oke daripada mbulet gak karuan sekarang langsung ke langkah pertama :

0 komentar:

DILARANG JATUH CINTA

Semua mata terbelalak -- berpusat kepada laki-laki yang berdiri persis di atas atap gedung berlantai 33, siap untuk bunuh diri. Sejumlah polisi sibuk mengamankan lokasi yang dipenuhi orang-orang yang ingin menyaksikan peristiwa tragis itu secara langsung, dengan berbagai ekspresi yang tak kalah seru. Ada yang bergidik, ada yang terbelalak histeris, ada juga yang terkagum-kagum. Situasi heboh itu melumpuhkan lalulintas. Beberapa polisi sibuk berdebat dan stres -- mencari solusi bagaimana mencegah orang sableng itu agar tidak mewujudkan kegilaannya.

0 komentar:

La Tenri Tappu To Appaliweng (1775–1812)

a Tenri Tappu To Appaliweng adalah cucu La Temmassonge’ To Appaweling MatinroE ri Malimongeng, dari anaknya yang bernama We Hamidah Arung Takalar Petta MatowaE. La Tenri Tappu menggantikan neneknya menjadi Arumpone pada tanggal 4-6- 1775 M.
Arumpone La Tenri Tappu inilah yang berkedudukan di Rompegading, sehingga ketika ia meninggal dunia digelar Latenri Tappu MatinroE ri Rompegading. Sebagai Arumpone, ia pernah berperang dengan Addatuang Sidenreng yang bernama La Wawo. Persoalannya adalah karena La Wawo akan melepaskan diri dari keterikatannya dengan Bone. La Wawo bertegas tidak akan memberikan lagi – sebbukati (upeti) yaitu semacam persembahan yang menjadi kewajiban Addatuang Sidenreng.
Setelah melalui pertimbangan yang matang, berangkatlah orang Bone dibawah komando Arumpone untuk menyerang Sidenreng. Karena merasa terancam, Addatuang Sidenreng La Wawo minta bantuan kepada Karaeng Tanete. La Wawo minta kepada Karaeng Tanete agar Arumpone La Tenri Tappu bersama segenap pasukannya dapat dibendung untuk tidak memasuki wilayah Sidenreng. Addatuang Sidenreng La Wawo menyanggupi untuk menyediakan –ubba yaitu semacam bahan peledak kepada Karaeng Tanete dalam membendung serangan Bone.
Setelah bermusuhan kurang lebih tiga tahun, ternyata orang Bone tidak mampu untuk melewati Sungai Segeri karena dibendung oleh orang Tanete dengan bantuan Petta TollaowE ri Segeri.
Untuk mencegah terjadinya perang yang berkerpanjangan, Pembesar Kompeni Belanda di Ujungpandang segera turun tangan. Pembesar Kompeni Belanda yang bernama Yacobson Wilbey mengingatkan kepada Arumpone La Tenri Tappu untuk mundur ke Bone. Begitu pula kepada Addatuang Sidenreng La Wawo agar menarik pasukannya kembali ke Sidenreng. Dengan demikian, perang antara Bone dengan Sidenreng berakhir.
Ketika perang antara Bone dengan Sidenreng berakhir, datanglah La Wawo kepada Karaeng Tanete membawa 40 orang Batu Lappa dan 20 orang Kasa sebagai pengganti harga ubba yang digunakan Karaeng Tanete selama perang. Dalam masa pemerintahan La Tenri Tappu di Bone, Inggeris menduduki Rotterdam menggantikan Belanda tahun 1814 M.
La Tenri Tappu To Appaliweng kawin dengan sepupu satu kalinya yang bernama We Padauleng untuk dijadikan sebagai Arung Makkunrai (permaisuri) di Bone. We Padaulengadalah anak dari La Baloso, saudara ibunya dengan isterinya yang bernama We Tenriawaru Arung Lempang.
We Padauleng dengan La Tenri Tappu melahirkan anak pertama bernama La Mappasessu To Appatunru, inilah yang kemudian menjadi Mangkau’ di Bone, kedua bernama We Manneng Arung Data, ketiga bernama Batara Tungke Arung Timurung, keempat bernama La Pawawoi Arung Sumaling, kelima bernama La Mappaseling Arung Pannyili, keenam bernama La Tenri Sukki Arung Kajuara, ketujuh bernama We Kalaru Arung Pallengoreng, kedelapan bernamaMamuncaragi, kesembilan bernama La Tenri Bali Arung Ta’, kesepuluh bernama La Mappawewang Arung Lompu Anre Guru Anakarung Bone, kesebelas bernama La Paremma’ Rukka Arung Karella, kedua belas bernama La Temmu Page Arung Paroto Ponggawa Bone MatinroE ri Alau Appasareng, ketiga belas bernama La Pattuppu Batu Arung Tonra.
La Mappasessu To Appatunru kawin dengan We Bau Arung Kaju, anak dari We Rukiyahdengan suaminya yang bernama La Umpu Arung Teko. Dari perkawinannya itu lahirlah; We Baego Arung Macege. Inilah yang kawin dengan sepupu satu kali ibunya yang bernamaSumange’ Rukka To Patarai Arung Berru. Selanjutnya dari perkawinan We Baego Arung Macege dengan Sumange’ Rukka To Patarai, lahirlah; We Pada Arung Berru dan Singkeru’ Rukka Arung Palakka.
Adapun La Tenri Sukki Arung Kajuara To Malompo di Bone, kawin dengan sepupu satu kalinya yang bernama We Tenri Lippu atau We Maddika Daeng Matana Arung Kaju. Dari perkawinannya itu lahir seorang anak perempuan bernama We Tenriawaru Pancai’tana Besse Kajuara. Daeng Matana adalah anak dari We Maddilu saudara kandung We Padauleng Arung Makkunrai di Bone.
Sedangkan La Mappawewang Arung Lompu Anre Guru Anakarung Bone, kawin dengan We Tabacina atau Bau Cina Karaeng Kanjenne anak dari We Mudariyah MappalakaE Ranreng Talotenre dengan suaminya yang bernama La Pasanrangi Petta CambangE Arung Malolo Sidenreng. Dari perkawinan Bau Cina dengan Petta Anre Guru AnakarungE ; pertama bernama La Parenrengi Arung Ugi. Inilah yang kawin dengan sepupu satu kalinya yang bernama We Tenriawaru atau Pancai’tana Besse Kajuara anak dari We Tenri Lippu atauWe Maddika Daeng Matana dengan suaminya yang bernama La Tenri Sukki Arung Kajuara.
Adik dari La Parenrengi bernama Toancalo Petta CambangE Arung Amali To Marilaleng Boneyang juga sebagai Ranreng Talotenre Wajo. Selanjutnya adik dari Toancalo bernama Sitti Saira Arung Lompu. Adik berikutnya bernama We Rukka, We Ciciba. We Ciciba inilah yang kawin dengan La Pangerang Arung Cimpu.
Kembali kepada saudara perempuan La Tenri Tappu yang bernama We Yallu Arung Apala. Inilah yang melahirkan Datu Pattiro, Datu Soppeng MatinroE ri Tengngana Soppeng dengan suaminya yang bernama La Mappapole Onre Datu Soppeng MatinroE ri Amala’na. Anak berikutnya bernama La Mata Esso Sule Datu di Soppeng MatinroE ri Lawelareng. Selanjutnya bernama We Tenri Kaware Arung Saolebbi Arung Balosu. Selanjutnya We Dende, meninggal dunia ketika masih kecil.
La Unru Datu Pattiro kawin dengan We Selima Mabbaju NyilaE anak dari We Mariyama Mabbaju LotongE dengan suaminya yang bernama La Pede Daeng Mabela Pabbicara Sidenreng. Dari perkawinannya itu lahirlah pertama bernama Baso Sidenreng Petta Ambo’na Salengke, kedua bernama We Bonga Petta Indo’na I Lampoko.
Baso Sidenreng Petta Ambo’na Salengke kawin dengan We Waru, kemudian We Kacici. Keduanya adalah anak dari La Patau Petta Janggo Arung Leworeng. Dari perkawinan dengan We Waru lahirlah; pertama bernama We Nibu, kedua bernama La Salengke. Selanjutnya We Kacici melahirkan anak pertama bernama La Palloge, kedua bernama We Jenna, ketiga bernama We Takka.
Sedangkan We Tenri Kaware Arung Balosu kawin dengan Sumange’ Rukka Ambo’ Pajala Arung Tanete anak We Soji Arung Tanete dengan suaminya yang bernama La Makkawaru Arung Atakka Tomarilaleng Bone. Dari perkawinannya itu lahirlah dua anak laki-laki pertama bernama La Patongai Datu Pattiro, kedua bernama La Passamula BadungE.
La Patongai Datu Pattiro kawin dengan sepupu satu kalinya yang bernama We Panangareng Datu Lompulle, anak dari We Pancai’tana Arung Akkampeng dengan suaminya yang bernama La Rumpang Megga Karaeng Tanete. We Panangareng dengan La Patongaimelahirkan anak bernama La Onro Datu Lompulle.
La Passamula BadungE kawin dengan sepupu satu kalinya yang bernama We Bonga Petta Indo’na I Lampoko. Dari perkawinan itu lahirlah anaknya pertama bernama Bau Baso Arung Balosu, inilah yang menjadi Sule Datu di Soppeng. Kedua bernama Sitti Hawang, ketiga bernama We Mira.
Bau Baso Arung Balosu kawin dengan sepupu satu kalinya yang bernama We Nebu Petta Indo’na Matta anak Baso Sidenreng dengan isterinya We Waru. Dari perkawinan itu lahirlah ; pertama bernama We Matta, kedua bernama Mahmud Petta Bau, ketiga bernama We Besse.
Sitti Hawang kawin dengan La Cakkudu Petta Amparita, anak La Panguriseng Addatuang Sidenreng dengan isterinya yang bernama We Bangki Arung Rappeng. We Sitti Hawangdengan La Cakkudu melahirkan anak bernama La Pasanrangi Datu Taru.
We Taka kawin dengan La Sanreseng Datu Lamuru, anak dari Jaya Langkara Datu Lamurudengan isterinya yang bernama We Tellongeng. Dari perkawinan itu lahirlah We Sengngeng. Inilah yang kawin dengan La Sana Arung Lompengeng, anak dari La Page Arung Lompengeng dengan isterinya yang bernama We Bonga. We Sengngeng dengan La Sanamelahirkan anak bernama We Yasiyah. We Yasiyah inilah yang kawin dengan La Coppo Daeng Mangottong, anak dari La Massikkireng Arung Macege dengan isterinya yang bernama Sitti Aminah Arung Pallengoreng.
We Jenna kawin dengan La Passamula Datu Lompulle Ranreng Talotenre Arung Matowa Wajo MatinroE ri Batubatu. Anak dari La Patongai Datu Lompulle Ranreng Talotenre dengan isterinya Besse Arawang. Dari perkawinannya itu lahirlah La Mappe Datu Mario Riawa. Kemudian La Mappe kawin dengan sepupu satu kalinya yang bernama We Besse anak Sule DatuE Arung Balosu dengan isterinya yang bernama We Nebu Petta Indo’na Matta. Selanjutnya We Besse dengan La Mappe melahirkan anak perempuan yang bernama Isa Arung Padali.
We Matta kawin dengan sepupu satu kalinya yang bernama La Pasanrangi Datu Taru, anak dari Sitti Hawang dengan suaminya La Cakkudu Petta Amparita. Kemudian We Mattadengan La Pasanrangi melahirkan anak pertama bernama La Bandu, kedua bernama We Selo. We Selo kawin dengan La Jojjo Arung Berru Karaeng Lembang Parang, anak dari We Batari Arung Berru dengan suaminya La Mahmud Karaeng ri Baroanging. Dari perkawinannya itu lahirlah We Tenri.
La Onro Datu Lompulle kawin dengan We Cecu Arung Ganra yang juga Arung Belawa Orai. Anak dari We Sitti Tahirah Patola Wajo dengan suaminya To Lempeng Arung Singkang yang juga Datu Soppeng Rialau. Kemudian We Cecu dengan La Onro melahirkan anak ; pertama bernama We Soji Datu Madello, kedua bernama La Pabeangi Arung Ganra, ketiga bernama La Rumpang Datu Pattiro Ranreng Talotenre.
We Soji Datu Madello kawin dengan Loa Tengko Manciji Wajo Arung Belawa Alau anak dari La Tune Arung Bettempola dengan isterinya Sompa Ritimo Arung Penrang. Dari perkawinannya itu lahirlah; pertama bernama La Cella, kedua bernama We Tenri Arung Belawa , ketiga bernama We Panangareng Datu Madello, keempat bernama La Patongai Datu Doping.
La Pabeangi Arung Ganra kawin dengan sepupu satu kalinya yang bernama We Tenri Sui Datu Watu Arung Lapajung Patola Wajo, anak dari We Mappanyiwi Patola Wajo dengan suaminya yang bernama La Walinono Datu Botto. We Tenri Sui dengan La Pabeangi melahirkan anak; pertama bernama La Wana Arung Ganra, kedua bernama La Jemma Datu Lapasung, ketiga bernama We Yaddi Luwu Datu Watu, keempat bernama Sitti Tahira Patola Wajo Datu MallanroE. Sitti Tahira inilah yang kawin dengan sepupu tiga kalinya yang bernama La Bandu, tidak melahirkan anak.
La Wana kawin dengan sepupu tiga kalinya yang bernama Isa Arung Padali anak dari La Mappe dengan isterinya yang bernama We Besse. Kemudian La Mappe kawin lagi dengan We Cingkang anak dari La Jalante Jenderal Tempe. Dari perkawinannya itu lahirlah La Mori. Selanjutnya Isa dengan La Wana Arung Ganra melahirkan anak; pertama bernama La Walinono Arung Laleng Bata, kedua bernama We Tenri Dio Datu Lompulle, ketiga bernama Galette, keempat bernama Abu Baedah.
We Yaddi Luwu kawin dengan sepupu satu kalinya yang bernama La Mangkona Datu Mario Riwawo anak dari La Wawo Datu Botto dengan isterinya yang bernama We Tenri Leleang Datu Mario Riwawo. We Yaddi Luwu dengan La Mangkona melahirkan anak; pertama bernama La Sade, kedua bernama We Tenriabeng, ketiga bernama We Tenriangka, keempat bernama We Cecu, kelima bernama We Tenri Pakkemme’.
La Onro Datu Lompulle kawin lagi dengan We Dulung, melahirkan seorang anak bernama La Cube. Inilah yang kemudian menjadi Pangulu Lompo di Galung. La Cube kawin dengan We Munde saudara perempuan Jenderal Lompengeng, anak dari La Page Arung Lompengeng dengan isterinya We Bonga. Dari perkawinan La Cube dengan We Munde ; pertama bernama La Singke, kedua bernama We Sukki, ketiga bernama Sitti Saleha, keempat bernama La Mahmud.
La Rumpang kawin lagi dengan We Tappa dan melahirkan seorang anak laki-laki bernama La Makkulawu.
Sampai disinilah keterangan tentang keturunan We Yallu Arung Apala yang bersaudara kandung dengan We Banrigau Arung Tajong. We Banrigau Arung Tajong kawin dengan La Tenriangka Arung Ujung anak dari Tomarilaleng Pawelaiye ri Gowa dengan isterinya yang bernama Sitti Aminah Karaeng Somba Opu yang juga Karaeng Tallo. Perkawinannya itu melahirkan seorang anak laki-laki bernama La Tenri Wari.
Kemudian We Banrigau Arung Tajong kawin lagi di Wajo dengan La Sampenne Petta La Battowa CakkuridiE ri Wajo yang juga sebagai Arung Liu. Anak dari La Paulangi To Saddapotto Daeng Lebbi Arung Bette dengan isterinya We Tenri Ampa Arung Singkang. We Banrigau dengan Petta La Battowa melahirkan anak; pertama bernama We Sawe Arung Liu, kedua bernama La Olli Maddanreng Bone, ketiga bernama We Sikati Andi Ecce
We Sikati kawin dengan La Sampo Arung Ugi yang juga sebagai Arung Belawa. Anak dari La Mampulana Arung Ugi dengan isterinya yang bernama We Bakke Datu Kawerang. Dari perkawinannya itu, lahirlah ; pertama bernama We Busa Petta WaluE Arung Belawa, kedua bernama La Rappe Arung Liu Arung Ugi yang juga Maddanreng di Bone dan Sule Ranreng Tuwa ketika sepupu satu kalinya yang bernama We Hudiyah menjadi Ranreng Tuwa. Ketiga bernama La Maggalatung Daeng PaliE Arung Palippu.
We Busa Arung Belawa kawin dengan La Tompi Arung Bettempola MatinroE ri Wajo. Anak dari La Sengngeng Arung Bettempola MatinroE ri Salawa’na dengan isterinya We Mappangideng Arung Macanang. Dari perkawinan itu lahirlah; pertama bernama We Kalaru Arung Bettempola, kedua bernama La Paramata atau La Tatta Raja Dewa Arung Bettempola, ketiga bernama La Tune Mangkau atau La Tune Sangiang Arung Bettempola MatinroE ri Tancung.
We Kalaru kawin dengan La Patongai Datu Lompulle Ranreng Talotenre, anak dari We Mudariyah MappalakaE dengan suaminya La Pasanrangi Petta CambangE Arung Malolo Sidenreng. Dari perkawinannya itu lahirlah; pertama laki-laki bernama La Mangkona To Rao PajumpungaE Datu Alau Wajo dan juga sebagai Arung Palippu.
La Rappe Arung Liu kawin dengan We Besse Daeng Taleba Arung Penrang anak dari We Jiba Datu Bulu Bangi dengan suaminya La Saliwu Petta KampongE Arung Atakka. Dari perkawinannya itu lahirlah seorang anak perempuan yang bernama Sompa Ritimo Arung Penrang MatinroE ri Cinnong Tabi. Kemudian Sompa Ritimo kawin dengan sepupu satu kalinya yang bernama La Tune Mangkau Arung Bettempola. Anak dari We Busa Petta WaluE dengan suaminya La Tompi Arung Bettempola MatinroE ri Wajo.
Sompa Ritimo dengan La Tune Sangiang melahirkan anak yang bernama La Gau, inilah yang kemudian mejadi Ranreng di Bettempola Wajo. La Gau kemudian kawin dengan We Tenri Sampeang Denra WaliE Arung Patila. Anak dari We Baru Arung Patila dengan suaminya yang bernama La Saddapotto Maddanreng Pammana. Kemudian La Gau dengan We Tenri Sampeang melahirkan anak yang bernama La Jamarro, inilah yang kemudian menjadi Paddanreng Bettempola. Anak berikutnya adalah La Cengke Manciji Wajo, La Tengko Arung Belawa Alau, juga sebagai Manciji Wajo, La Jollo Datu Patila, La Mamu Petta Yugi, La Come, We Gallo Arung Liu,
We Gallo Arung Liu, kawin dengan sepupu satu kalinya yang bernama La Mangkona To Rao PajumpungaE, tidak ada anaknya. Kemudian PajumpungaE kawin lagi dengan sepupu satu ayahnya yang bernama We Nyili’timo Arung Baranti, anak dari La Panguriseng .
Arumpone La Tenri Tappu yang tempat tinggalnya Rompegading dan Bone secara bergantian. Pada tahun 1812 M. ia meninggal dunia di Rompegading, maka dinamakanlah MatinroE ri Rompegading. La Tenri Tappu To Appaliweng Daeng Palallo MatinroE ri Rompegading digantikan oleh anaknya yang bernama La Mappasessu To Appatunru sebagai Mangkau’ di Bone.

0 komentar:

BILA BOS...................

Bila boss tetap pada pendapatnya,
itu berarti beliau konsisten.
Bila staf tetap pada pendapatnya,
itu berarti dia keras kepala !

Bila boss berubah-ubah pendapat,
itu berarti beliau flexible.
Bila staf berubah-ubah pendapat,
itu berarti dia plin-plan !

Bila boss bekerja lambat,
itu berarti beliau teliti.
Bila staf bekerja lambat
itu berarti dia tidak 'perform' !

Bila boss bekerja cepat,
itu berarti beliau 'smart'.
Bila staf bekerja cepat,
itu berarti dia terburu-buru !

Bila boss lambat memutuskan,
itu berarti beliau hati-hati.
Bila staf lambat memutuskan,
itu berarti dia 'telmi' !

Bila boss mengambil keputusan cepat,
itu berarti beliau berani mengambil keputusan.
Bila staf mengambil keputusan cepat,
itu berarti dia gegabah !

Bila boss terlalu berani ambil resiko,
itu berarti beliau risk-taking.
Bila staf terlalu berani ambil resiko,
itu berarti dia sembrono !

Bila boss tidak berani ambil resiko,
itu berarti beliau 'prudent'.
Bila staf tidak berani ambil resiko,
itu berarti dia tidak berjiwa bisnis !

Bila boss mem-by-pass prosedur,
itu berarti beliau proaktif-inovatif.
Bila staf mem-by-pass prosedur,
itu berarti dia melanggar aturan !

Bila boss curiga terhadap mitra bisnis,
itu berarti beliau waspada.
Bila staf curiga terhadap mitra bisnis,
itu berarti dia negative thinking !

Bila boss menyatakan : " Sulit "
itu berarti beliau prediktif-antisipatif.
Bila staf menyatakan : " Sulit "
itu berarti dia pesimistik !

Bila boss menyatakan : " Mudah "
itu berarti beliau optimis.
Bila staf menyatakan : " Mudah "
itu berarti dia meremehkan masalah !

Bila boss sering keluar kantor,
itu berarti beliau rajin ke customer
Bila staf sering keluar kantor,
itu berarti dia sering kelayapan !

Bila boss sering entertainment,
itu berarti beliau rajin me-lobby customer.
Bila staf sering entertainment,
itu berarti dia menghamburkan anggaran !

Bila boss tidak pernah entertainment,
itu berarti beliau berhemat.
Bila staf tidak pernah entertainment,
itu berarti dia tidak bisa me-lobby customer !

Bila boss men-service atasan,
itu berarti beliau me-lobby.
Bila staf men-service atasan,
itu berarti dia menjilat !

Bila boss sering tidak masuk,
itu berarti beliau kecapaian karena kerja keras.
Bila staf sering tidak masuk,
itu berarti dia pemalas !

Bila boss minta fasilitas mewah,
itu berarti beliau menjaga citra perusahaan.
Bila staf minta fasilitas standar,
itu berarti dia banyak menuntut !

. . . . . . . . . . . (masih banyak lagi)

Bila boss membuat tulisan seperti ini,
itu berarti beliau humoris.
Bila staf membuat tulisan seperti ini,
itu berarti dia :
- frustasi
- iri terhadap karir orang lain
- negative thinking
- provokasi
- tidak tahan banting
- barisan sakit hati
- berpolitik di kantor
- tidak produktif
- tidak sesuai dengan budaya perusahaan
- . . . . . . (masih banyak lagi)

1 komentar:

UNTUKMU.......

Aku bawa hatiku bersamamu
Kubawa hatimu dalam hatiku
Aku bukan apa-apa tanpanya
Kemanapun aku pergi, kau ikut bersamaku
Dan kau selalu berdiri didekatku

Aku tak takut pada nasib
Karena kaulah nasibku
Aku tak inginkan dunia
Karena manis, kaulah duniaku

Ini adalah rahasia yang tak seorangpun tahu

Kau adalah akar, akarnya
Sahabat, sahabantnya
Langit, langitnya
Dipohon yang disebut kehidupan
Yang selalu tumbuh setinggi-tingginmya
Atau yang tak dapay kusembunyikan
Kau yang membuat bintang menjadi terpisah

Aku membawa hatimu,
Aku membawanya dalam hatiku

2 komentar:

Persahabatan seperti apa?

Ada kalian yang menyebutku saudara, sahabat, dan lainnya.
Di depanku tersenyum dan menyokong. Tapi di belakang menohok dan menusuk.
Kalian kira aku tak tahu, dan kalian kira aku tak merasa.
Sementara aku tersenyum penuh kemenangan tanpa memandang ke belakang.

Aku diam bukan karena tak tahu, sahabat.
Aku diam karena aku perlu pembuktian untuk diriku sendiri.
Aku membiarkan bukan karena tak merasa, teman.
Kehilangan dan sedikit luka tak berarti dibanding topeng yang terbuka.

Tetaplah di belakang dan pasang topeng kalian kalau mau,
karena tanpa perlu kuteriakkan dengan lantang..,
kalian yang paling tahu,
mengapa kalian hanya mampu terus berada di belakangku.

Aku memiliki mereka yang tak banyak bicara,
tapi banyak bergerak di saat yang paling aku butuhkan.
Aku memiliki mereka yang menguatkan hatiku dengan kalimat paling sedikit yang pernah kudengar.
Dan mereka yang tanpa segan berkorban untukku tanpa mempertanyakan.

Bersama merekalah aku berjalan bersama.
Dan kami,
..........hanya memandang ke depan.

0 komentar:

RAJA-RAJA SOPPENG

PENDAHULUAN

Kompleks makam kuno Jera LompoE yang berlokasi di Desa Bila Kec. Lalabata, Kab. Soppeng, Provinsi Sulawesi Selatan adalah sebuah kompleks makam Raja-Raja Soppeng yang cukup memiliki nilai-nilai arkeologis dan historis karena mempunyai bentuk yang sangat antik.
Pada abad ke XVII Raja-Raja soppeng telah mempunyai peranan percaturan politik pada zaman tersebut.
Antara lain : Latenri Bali Raja Soppeng ke XV dan Weada Raja Soppeng ke XVI.
Dari bentuk dan letak makam tesebut meyakinkan makam tersebut adalah makam Islami tapi masih dipengaruhi oleh tradisi megalithik juga sangat sederhana bila dibandingkan dengan makam lainnya di Sulawesi Selatan.
Pemugaran kompleks makam kuno Jera Lompoe dapat diselesaikan dengan tiga tahap yaitu dimulai pada tahun anggaran 1977-1978, dan selesai pada tahun 1979-1980.

MAKSUD DAN TUJUAN PEMUGARAN

Maksudnya ialah untuk melindungi dan melestarikan warisan Budaya bansa yang tak ternilai itu.
Berdasarkan Monumenten Ordonantic No. 238 tahun 1931 yaitu peraturan yang dibuat oleh penerintahan Belanda, masih di berlakukan pada saat ini untuk melarang merusak, memindahkan dan mengotori peninggalan sejarah dan purbakala sebagai unsure kebudayaan bangsa Indonesia.


TUJUAN PEMUGARAN

Pemugaran bertujuan menyelamatkan dan memelihara warisan budaya bangsa serta mengembangkannya agar dapat menunjang kembali kegairahan kehidupan nasional menjadi sumber inspirasi. Daya cipta kehidupan bangsa sekaligus menjadi landasan lesadaran Nasional yang mantap dalam rangka membina dan mengembangkan kepribadian bangsa, pemugaran secara khusus bertujuan untuk medya pendidikan objek pengembangan ilmu pengetahuan dan dapat di manfaatkan untuk objek pariwisata.
Pemugaran dibiayai oleh proyek pemugaran dan pemeliharaan peninggalan sejarah dan purbakala Sulawesi selatan sebesar Rp.36920.000 (Tiga puluh enam juta sembilan ratus dua puluh rupiah ).

LOKASI

Lokasi makam terletak di tengah-tengah kota Watansoppeng, Ibukota Kabupaten Soppeng.
Berada di Desa Bila Kec. Lalabata tepatnya 800 meter di sebelah barat kantor Bupati Kepala Daerah Tingkat II Soppeng,terletak 170 km di sebelah Timur Laut Ujung Pandang.
Letak makam di atas bukit 135 m dp atas permukaan laut dengan di kelilingi oleh tanah yang lebih rendah, ideal untuk tepat istirahat dan rekreasi.

TIPE MAKAM

Makam yang berbentuk sebuah kotak batu persegi empat pada dinding sebelah utara dan selatan di bagian atsnya dibuat meruncing di bagian tengah.
Makam yang secara susun timbun dengan menyusun balok-balok batu persegi dan di atasnya di tutupi dengan atap, dan bentuknya menyerupai bentuk atap rumah Bugis / Makassar.
Diatas atap di tancapkan batu Njsan dan jenisnya Vulkanik yang keras dengan ukuran yang cukup.
DATA ARKEOLOGI

Bentuk makam pada kompleks makam Jera LompoE lebih sederhana bila dibandingkan dengan makam Raja-Raja Islam lainnya di Sulawesi selatan.
Berarti makam No. 3 bentuknya sangat sederhana.Secara keseluruhan bentuk makam sama bangunan Rumah dengan bangunan atap Rumah Bugis / Makassar di atasnya di tancapkan nisan besar satu atau dua buah mengingatkan kita batu megalithik.
Keunikan yang dimiliki Makam Jera’ LompoE ialah dengan memiliki nisan yang berbentuk keris dua buah dengan hiasan ukiran tumbuh-tumbuhan.
Gaya hias menunjukkan transisi antara pra Islam dan Islam.


DATA HISTORIS

Rakyat dapat dicapai
Awal abad ke XIV di Soppeng terdapat berbagai kelompok masyarakat, didalam Lontara disebutkan 60 orang MAtoa tidak ada kerja sama mengakibatkan perdamaian pada saat itu tidak pernah terwujud.
Mereka sadar akan pentingnya peraturan dan memerlukan seorang pemimpin yang berwibawa akan mengatur mereka kepada kedamaian dan kesentosaan.
Di dalam Lontara disebutkan Manurung, dan Tomanurung inilah yang menjadi wakil kelompok masyarakat atau Matoa. Daeng manurung yang diberi nama Temmamala diangkat menjadi Raja Soppeng dengan gelar Datu Soppeng, berangsur-angsur kemakmuran rakyat dapat di capai.
Puang LIpue mengikat perjanjian dengan kerajaan Bone dibawah kepemimpinan Raja Bone ke VIII La Tenri Rawe Bongkange ( MatinroE ri Gurinna )dan dengan Lamungkace Raja Wajo dengan gelar Tellung PoccoE ( Lamung Pitue Timurung ) artinya mengadakan persekutuan tiga Negara ( Bone, Soppeng, Wajo ) dengan tujuan bersatu kedalam dan keluar terhadap kerajaan lain.


TUGAS SUAKA PENINGGALAN SEJARAH DAN PURBAKALA

1. Menyelenggarakan pendokumentasian.
2. Menyelenggarakan pemeliharaan
3. Menyelenggarakan perlindungan
4. Menyelenggarakan pemugaran
5. Menyelenggarakan penyuluhan

ARKEOLOGI ATAU ILMU PURBAKALA

Adalah ilmu yang mempelajari peninggalan-peninggalan sejarah dan purbakala untuk menyusun kembali kehidupan manusia dan masyarakat masa lampau.


PENINGGALAN SEJARAH DAN PURBAKALA

Adalah semua peninggalan kebudayaan masa lampau yang masih dapat kita temui sampai kini berupa bekas-bekas pemikiman, alat-alat kerja, perkakas rumah tangga, alat upacara keagamaan, arca-arca, hasil seni lain. Bidang tanah yang sangat mengandung peninggalan Purbakala atau pernah terjadi peristiwa sejarah, tulang belulang manusia purba yang sudah membatu.


MOTTO

Masa lalu ….. masa kini ………….. masa dating adalah kesatuan yang dirangkaikan oleh waktu.
Masa kini adalah hasil dari pada ketentuan-ketentuan masa lalu.
Masa dating ditentukan oleh perkembangan masa kini.
Mengenal masa lalu berarti membekali diri menyongsong masa dating.
Mengenal masa lalu dan berpijak maa kini berarti berjalan lurus di atas rel sejarah menyongsong masa datang.

YANG PERLU ANDA KETAHUI DI DALAM PENGAMANAN BANGUNAN PURBAKALA
1. Monumenten Ordonantie, stb. 238 1932
2. Instruksi Mendagri tanggal 5 Pebruari 1960, No. 65/1/7/60.
3. Keputusan Presiden RI. No. 372-72, tanggal 15 Pebruari 1962.
4. Instruksi Mendikbud RI,tgl. 15 Agustus 1972
5. Instruksi Pang. Kouk. Tgl. 8 Januari 1973
6. Instruksi Mendikbud, tgl 6 Januari 1973, No. 01/A/1/1973
7. Surat Kepala Kepolisian RI, tgl. 23 April 1973, No. Juklak/Lit/IV/1973.
8. Surat Kapolri tgl. 10 Januari 1976, No. Pol, Polsus/17/I/1976.
9. Keputusan bersama Menteri Perdagangan, Keuangan dan Gubernur Bank Sentral.
10. Instruksi Mendagri No. 432.17 tanggal 20 Pebruari 1982 (terhimpun dalam satu peraturan).

SUSUNAN RAJA-RAJA SOPPENG

1 LATEMMAMALA 19 LA TEMMASENGE
2 LA MARAJA CINNA 20 LA PADANG SEJATI
3 LA BALLA 21 LAPAREPA TOSAPPEWALI
4 WE TEKKE WANUA 22 BATARI TOJA
5 LA MAKKANENGNGA 23 LA ODDANG
6 LA KARELLA 24 BATARI TOJA
7 LA PAWISEANG 25 -
8 LA PASAMPOI 26 LA TONGENG
9 LA MANNUGA TOKARANCA 27 LA MAPPAJANCI 1780
10 LA DENGMABOLONGGE 28 LA MAPPAPOLEONRO
11 LA MATA ESSO 29 TENRIAWARU ( P. LUWU ) XXIII
12 LA SEKATI 30 TENRI AMPARENG
13 LA MAPPALEPPE : 1582 31 LA UNRU
14 BEOWE : 1609 32 LAONRONG ( DT. PATIRO )
15 LA TENRI BALI 33 TOLEPPENG 1823
16 WE ADA 34 ABD. CANI
17 LA TENRI SENGE 35 ST. SAINAB 1825
18 LA PATAU MATTANATIKKA 36 LA WANA


PERJANJIAN TELLU POCCOE

Yaitu :
1. Raja Soppeng La Mappaleppe Patolae
2. Raja Bone Latenri Rawe Bongkange
3. Arung MAtoa Wajo Lamungkace

Isi Perjanjian : Disebut Tellu Poccoe atau Lamaung Patue Ritimurung tahun 1582 bertempat di Bunne / Desa Alamung Patue Kecamatan Ajangale Kabupaten Bone.
Adapun isi perjanjian dalam Bahasa Bugis berbunyi :
Malilu sipakainge, rebba sipatokkong sipodapi, riperi nyameng, tellu tessibaiccukeng, tessi accinaiyang ulaweng matasa, patola malampe warang parang maega, iyyatea ripakainge, iyya riduai, idi tellu massiajing, mappada orowane se ina se ama. Tanata Tellu, Bone, Wajo, Soppeng, manguru ja, manguru deceng sewwa Matoa, sewwa ana tengnga, sewwa paccucung, matula parajo, tellu massiajing. Namana eppo, tenna wawa tomate. Tari adanna tanae iyya tellu massiajing. Iyyapa namarusa, marusapa paratiwi.

0 komentar:

MAAF MASIH DALAM PENGEMBANGAN

BLOG INI SEMENTARA DALAM RANCANGAN DAN AKAN DIKEMBANGKAN SUPAYA BENAR-BENAR BISA MEMENUHI KEBUTUHAN MASYARAKAT BAIK YANG ADA DI LEWORENG ATAU PUN YANG ADA DI RANTAU. MOHON DOA RESTU DAN DUKUNGANTA

1 komentar:

LEWORENG FACEBOOKERS

Adalah tempat bersatunya para Facebookers yang merasa berasal dari Leworeng dan sekiotarnya. Marilah kita bersama-sama mengembangkan dan membangun suatu komunitas yang benar-benar bisa menjadi pemersatu bagi kita semua yang berada di manapun di seluruh Nusantara ini.

0 komentar:

LWR